Wikioil

Minyak Atsiri / Essential Oil

Minyak Atsiri / Essential Oil – Mata Rantai yang Hilang Dalam Dunia Pengobatan Modern

Selain memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekologi bumi, tumbuh-tumbuhan juga erat dikaitkan dengan keseimbangan fisik, emosi, dan spiritual umat manusia sejak awal masa.

Kerajaan tumbuhan terus menjadi subjek dari begitu banyak penelitian dan penemuan. Tidak sedikit obat-obatan paten mengambil elemen alami dari tumbuh-tumbuhan sebagai bahan dasarnya. Tiap tahunnya, jutaan dolar dialokasikan untuk laboratorium dan universitas swasta yang melakukan penelitian untuk menemukan elemen-elemen terapeutik pada kulit pohon, akar, bunga, biji, dan dedaunan di kanopi hutan, dasar sungai, hutan belantara, lereng bukit, dan padang gurun belantara yang tersebar di seluruh dunia, yang selama ini belum terjamah manusia.

Essential oils, yang dalam Bahasa Indonesia disebut minyak atsiri, dan ekstrak tumbuh-tumbuhan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sejarah umat manusia sejak awal masa, dan banyak orang melihatnya sebagai mata rantai yang hilang dalam dunia pengobatan modern. Selain digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit misterius, minyak dan ekstrak tumbuhan juga telah digunakan secara medis untuk membunuh bakteri, jamur, virus, dan menangkal gigitan serangga, hama, dan ular. Minyak dan ekstrak tumbuhan merangsang regenerasi jaringan dan saraf.

Minyak atsiri juga menghasilkan aroma yang luar biasa untuk menenangkan jiwa, membangkitkan semangat, menghilangkan emosi negatif, dan menciptakan atmosfer yang romantis.

 

Definisi Minyak Atsiri

Minyak atsiri adalah cairan yang mudah menguap dan memiliki aroma yang khas, yang terkandung dalam berbagai semak belukar, bunga, pohon, akar, dan biji. Minyak atsiri ini umumnya diekstraksi melalui proses distilasi uap.

Proses kimiawi yang terjadi pada satu jenis minyak atsiri sangatlah kompleks dan mungkin melibatkan ratusan senyawa kimiawi yang unik dan berbeda satu dengan yang lain. Selain itu, proses distilasi yang dilakukan membuat minyak atsiri memiliki kandungan yang sangat padat dan jauh lebih berkhasiat dari tumbuhan herbal yang dikeringkan. Dibutuhkan komponen tumbuh-tumbuhan dalam jumlah yang begitu besar untuk menghasilkan sejumlah kecil minyak atsiri melalui proses distilasi. Sebagai contoh, dibutuhkan sekitar 2500 kilo kelopak bunga mawar untuk menghasilkan 1 kilo minyak atsiri mawar.

Minyak atsiri juga berbeda dari berbagai jenis minyak nabati seperti minyak jagung, minyak kacang, dan minyak zaitun. Minyak nabati memiliki tekstur yang berlemak dan bisa menyumbat pori. Minyak nabati juga mudah teroksidasi dan membusuk setelah jangka waktu tertentu, dan tidak mengandung zat-zat antibakteri. Berlawanan dengan minyak nabati, hampir semua jenis minyak atsiri tidak membusuk dan merupakan antimikroba yang sangat kuat. Minyak atsiri yang tinggi kandungan getah tumbuhan, seperti daun nilam (patchouli), akar wangi (vetiver), dan cendana (sandalwood) bisa membusuk setelah jangka waktu tertentu jika tidak melewati proses distilasi yang tepat, terutama jika terpapar panas dalam jangka waktu yang lama.

Minyak atsiri adalah elemen yang tidak bisa dipandang sebelah mata dan tidak dipelajari secara dalam dan menyeluruh. Para penggunanya harus memiliki pengetahuan dasar tentang cara aman penggunaan minyak atsiri, dan akan sangat membantu jika para penggunanya pun memiliki pemahaman dasar tentang proses kimiawi yang terjadi pada minyak atsiri. Namun sayangnya, tidak mudah untuk menemukan universitas atau seminar yang mengajarkan pengetahuan tentang minyak atsiri. Tidak mudah bagi kebanyakan orang untuk memahami buku-buku kimiawi, dan biasanya buku-buku tersebut tidak secara spesifik memaparkan proses kimiawi yang terjadi pada minyak atsiri. Selain itu, sangat sulit menemukan informasi, pengetahuan, seminar mengenai minyak atsiri dan penggunaannya dari sisi ilmiah.

Komunitas negara-negara di Eropa memiliki standar dan tingkat pengawasan yang tinggi terhadap ekstrak tumbuh-tumbuhan dan pihak-pihak yang boleh mengelolanya. Hanya para praktisi dengan sertifikasi dan pelatihan yang memadai yang bisa bekerja di bidang ilmu yang disebut ‘aromaterapi’.

Di Amerika Serikat, badan regulasi tidak mengenal bidang ilmu ini dan tidak mengharuskan pelatihan dengan jenis dan tingkat tertentu, yang sebenarnya diperlukan untuk mendistribusikan dan menggunakan minyak atsiri. Hal ini berarti bahwa di Amerika Serikat, hanya dengan mengikuti beberapa kelas singkat mengenai minyak atsiri, seseorang bisa menyebut diri ‘pakar aromaterapi’ dan melakukan pengobatan kepada siapapun – walaupun sang ‘pakar aromaterapi’ tersebut mungkin tidak memiliki pengalaman atau pelatihan yang memadai untuk memahami dan menggunakan minyak atsiri. Hal ini bukan hanya merendahkan dan menghancurkan kredibilitas dari keseluruhan bidang ilmu ‘aromaterapi’, tetapi juga berbahaya bagi pasien.

Minyak atsiri bukanlah elemen yang sederhana. Tiap jenis minyak adalah struktur yang kompleks dari ratusan elemen kimiawi yang berbeda. Tiap jenis minyak bisa mengandung sekitar 80 hingga 300 atau lebih unsur kimiawi yang berbeda. Minyak atsiri seperti lavender adalah minyak yang sangat kompleks. Banyak unsur di dalamnya hanya terkandung dalam jumlah yang sangat sedikit, tetapi tiap-tiap unsur tersebut memberikan kontribusi bagi minyak tersebut untuk memberikan efek terapeutik. Dibutuhkan penelitian selama bertahun-tahun untuk memahami masing-masing unsur dan fungsinya.

Satu jenis minyak atsiri bisa menghasilkan berbagai efek terapeutik yang sangat berbeda walaupun minyak tersebut hanya diberi satu label nama, misalnya ‘basil’, yang memiliki nama tumbuhan Ocimum basilicum. Hal ini bergantung pada proses kimiawi yang terjadi. Misalnya, kandungan basil yang tinggi pada senyawa linalool atau fenchol biasanya digunakan untuk antiseptik. Namun, kandungan basil yang tinggi pada senyawa methyl chavicol lebih berfungsi sebagai anti inflamasi dibanding antiseptik. Tipe ketiga, yaitu kandungan basil yang tinggi pada senyawa eugenol memiliki baik efek anti inflamasi maupun antiseptik.

Selain itu, minyak atsiri bisa diekstraksi atau didistilasi dengan cara yang berbeda, dan akan berdampak pada proses kimiawi dan efek medis dari minyak tersebut. Minyak yang dihasilkan melalui proses distilasi yang kedua atau ketiga dari satu materi tumbuhan yang sama biasanya khasiatnya tidak sekuat minyak yang dihasilkan melalui proses distilasi yang pertama. Namun, untuk jenis-jenis minyak tertentu, ada unsur kimiawi tambahan yang hanya dihasilkan pada proses distilasi yang kedua atau ketiga.

Minyak yang terpapar panas atau tekanan tinggi terlihat jelas memiliki unsur-unsur kimiawi yang lebih sederhana atau inferior karena panas yang berlebihan dan perubahan suhu dapat memecah banyak senyawa aromatik yang terdapat di dalam minyak – sebagian dari senyawa tersebut memiliki dampak besar untuk menghasilkan efek terapeutik. Selain itu, minyak yang dihasilkan dari proses distilasi uap jauh berbeda dengan yang dihasilkan dari ekstraksi cair.

Satu hal yang mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa beberapa minyak menjadi “tercemar” karena penggunaan senyawa sintetis yang ditambahkan ke dalam minyak. Misalnya, kemenyan (frankincense) murni sering ditambahkan dengan zat cair yang tidak berwarna dan tidak berbau seperti diethyl phthalate atau dipropylene glycol. Satu-satunya cara untuk membedakan yang “asli” dengan yang “tercemar” adalah melalui pengujian analitis menggunakan kromatografi gas, spektometri massa, dan refraktometer optik. Senyawa buatan yang dikatakan “menyerupai alamiah” tersebut hanya bisa dideteksi menggunakan teknologi GC/IRMS (Gas Chromatography, Isotope Ratio, and Mass Spectrometry) yaitu teknologi yang menggunakan kromatografi gas dan spektometri massa isotop.

Namun sayangnya, sejumlah besar minyak atsiri yang dipasarkan di Amerika Serikat berada di dalam kategori “tercemar” ini. Ketika kita sudah memahami dunia minyak sintetis atau minyak kualitas rendah dengan kandungan bahan kimia sintetis, kita akan menyadari mengapa kebanyakan konsumen tidak bisa melihat perbedaannya. Namun kalau kita benar-benar mengenali aroma minyak alami atau teknik untuk mengenali minyak yang “tercemar” melalui aromanya, kita mungkin bisa melihat perbedaannya.

 

Berbagai Model Penggunaan

Ada 3 model acuan dalam penanganan terapeutik menggunakan minyak atsiri: Inggris, Perancis, dan Jerman.

Model Inggris menambahkan satu jenis minyak atsiri dalam jumlah kecil ke dalam sejumlah besar minyak nabati, yang digunakan untuk memijat tubuh dengan tujuan untuk relaksasi dan menghilangkan stress.

Model Perancis menganjurkan penggunaan topikal (dioleskan) minyak atsiri murni yang memiliki efek terapeutik dan tanpa dilarutkan terlebih dahulu, dan/atau konsumsi minyak atsiri murni. Biasanya, beberapa tetes dari satu jenis minyak atsiri ditambahkan pada sari bunga agave, madu, sejumlah kecil minyak nabati, atau dioleskan pada roti. Banyak praktisi Perancis telah menemukan bahwa mengkonsumsi minyak atsiri dapat menghasilkan manfaat yang luar biasa.

Model Jerman berfokus pada penggunaan minyak atsiri melalui inhalasi – aromaterapi yang sesungguhnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek dari wewangian pada indera penciuman bisa menghasilkan dampak yang besar pada otak – terutama pada bagian hipotalamus (pusat kontrol hormon dari tubuh manusia) dan sistem limbik (berperan dalam mengontrol emosi). Beberapa jenis minyak atsiri yang tinggi akan kandungan sesquiterpenes, seperti mur (myrrh), cendana (sandalwood), aras (cedarwood), akar wangi (vetiver), dan melissa bisa secara signifikan meningkatkan kadar oksigen dan aktivitas di dalam otak, yang secara langsung bisa meningkatkan fungsi berbagai sistem di dalam tubuh.

Ketiga model acuan ini, bersama-sama, menunjukkan sifat minyak atsiri yang serbaguna dan berkhasiat. Hasil yang terbaik akan bisa dicapai dengan menggabungkan ketiga model tersebut dalam berbagai metode penggunaan seperti Vita Flex, teknik terapi auricular (telinga), pijat limfatik, dan Raindrop Technique.

Dalam beberapa kasus tertentu, inhalasi minyak atsiri mungkin lebih dipilih dibandingkan penggunaan minyak atsiri secara topikal. Hal ini biasanya terjadi ketika tujuan penggunaannya adalah untuk meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan, menurunkan berat badan, atau menyeimbangkan suasana hati dan emosi. Minyak cendana (sandalwood), peppermint, akar wangi (vetiver), lavender, dan eukaliptus (eucalyptus) adalah jenis yang efektif jika digunakan dengan dihirup.

Namun dalam beberapa kasus lain, penggunaan minyak atsiri secara topikal akan membawa hasil yang lebih baik, terutama pada kasus cacat atau cedera otot atau punggung. Untuk penggunaan secara topikal, alang-alang hijau (marjoram) akan memberikan hasil yang terbaik untuk otot, serai (lemongrass) untuk ligamen, dan wintergreen untuk tulang. Untuk gangguan pencernaan, satu atau dua tetes minyak peppermint dapat langsung dikonsumsi atau ditambahkan pada satu gelas air. Namun ini tidak berarti bahwa peppermint tidak bisa memberi hasil yang sama ketika digunakan dengan cara dipijatkan pada perut. Dalam beberapa kasus tertentu, salah satu dari ketiga metode penggunaan (dioleskan, dihirup, dikonsumsi) dapat dipilih dan dapat menghasilkan manfaat yang serupa.

Salah satu hal yang membuat minyak atsiri begitu unik diantara bahan alami yang mengandung efek terapeutik lainnya adalah kemampuannya untuk memberi dampak pada pikiran maupun tubuh jasmani. Aroma dari beberapa jenis minyak atsiri juga bisa meningkatkan semangat – secara fisik maupun psikologis. Aroma dari beberapa jenis minyak yang lain membawa efek menenangkan, yang membantu untuk meredakan kecemasan atau gejala hiperaktif. Dalam level fisiologi, minyak atsiri bisa meningkatkan fungsi imun dan meregenerasi jaringan yang rusak. Minyak atsiri juga bisa melawan penyakit menular dengan cara membunuh virus, bakteri, dan patogen lainnya.

Dua metode penggunaan minyak atsiri yang mungkin paling umum ditemukan adalah difusi udara dingin dan penggunaan topikal minyak atsiri tanpa dilarutkan terlebih dahulu. Metode penggunaan yang lain adalah menggunakan minyak atsiri dalam refleksologi, Vita Flex, dan acupressure. Menggabungkan ketiga metode ini dengan minyak atsiri akan mempercepat proses penyembuhan dan tidak jarang membawa hasil yang luar biasa, yang tidak bisa dicapai hanya dengan metode akupuntur atau refleksologi. Hanya dengan mengoleskan 1 – 3 tetes minyak atsiri pada titik akupuntur atau Vita Flex pada tangan atau kaki, hasilnya akan terlihat dalam waktu satu atau dua menit.  

Beberapa tahun yang lalu, seorang profesor ternama di bidang aromaterapi mencemooh penggunaan minyak atsiri untuk melawan penyakit. Namun, banyak orang menjadi saksi hidup tentang bagaimana minyak atsiri sangat membantu dalam proses pemulihan dari penyakit yang serius. Minyak atsiri memegang peranan yang penting dalam membantu banyak orang terbebas dari rasa sakit setelah bertahun-tahun hidup dengan rasa sakit yang luar biasa. Para pasien juga memberi kesaksian bagaimana minyak atsiri membantu untuk penyakit skoliosis dan bahkan mengembalikan sebagian pendengaran pada mereka yang terlahir tuli, dan mengembalikan pendengaran secara penuh pada mereka yang sebelumnya mengalami gangguan pendengaran.

Sebagai contoh, seorang wanita dari Palisades Park, California, menderita skoliosis setelah berjuang melawan polio pada masa remajanya. Kondisinya diperparah setelah ia terjatuh dan bahunya mengalami dislokasi. Dengan menahan rasa sakit dan kelumpuhan selama 22 tahun, ia telah pergi ke berbagai tempat untuk mencari orang yang bisa memulihkan bahunya secara permanen. Namun pencariannya tidak membawa hasil. Setelah mempelajari mengenai minyak atsiri, ia mengoleskan minyak helichrysum dan wintergreen ke bahunya. Hanya dalam jangka waktu yang singkat, rasa sakitnya mulai berkurang hingga akhirnya sama sekali hilang, dan ia bisa mengangkat tangannya hingga ke atas kepala untuk yang pertama kalinya setelah 22 tahun.

Kalau seseorang melihat hasil yang luar biasa seperti itu, akan sulit untuk memandang sebelah mata nilai dan khasiat dari minyak atsiri, dan potensi yang masih terkandung di dalamnya. Orang akan berpikir bahwa bukanlah hal yang sia-sia untuk mempelajari mengenai minyak atsiri ini lebih dalam lagi. Namun sayangnya banyak yang mengabaikan hal ini karena kurangnya pengetahuan.

Obat Pertama Manusia

Dari tulisan dan tradisi kuno, terlihat bahwa wewangian digunakan dalam ritual-ritual agama, pengobatan, dan keperluan spiritual dan jasmaniah lainnya. Tulisan dari masa 4500 SM menjelaskan penggunaan zat balsam yang mengandung wewangian untuk ritual agama dan keperluan pengobatan. Tulisan-tulisan kuno mencatat penggunaan kulit pohon, getah, rempah-rempah wangi, cuka, anggur, dan bir pada ritual-ritual, kuil, astrologi, pembalseman, dan pengobatan. Bukti-bukti yang ada secara jelas menunjukkan bahwa orang-orang di masa kuno memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai minyak atsiri dibandingkan kita sekarang.

J. Holmyard, seorang sejarawan sains dan teknologi, menyebut proses distilasi sebagai “proses yang sangat kuno; bentuk primitif dari peralatan distilasi yang berasal dari sekitar 3500 SM telah ditemukan di Tepe Gawra di Mesopotamia sebelah timur laut (sekarang Irak), dan dijabarkan oleh Martin Levey dari Pennsylvania State University.”1

Orang-orang Mesir adalah ahli dalam penggunaan minyak atsiri dan berbagai wewangian lain di dalam proses pembalseman. Catatan sejarah menjelaskan bahwa salah satu dari pendiri pengobatan Mesir kuno adalah Imhotep, seorang arsitek dan kanselir dari Raja Djoser (2780 SM – 2720 SM). Imhotep sering disebut sebagai pelopor penggunaan minyak, rempah-rempah, dan wewangian untuk kepentingan pengobatan. Selain itu, orang-orang Mesir mungkin adalah yang pertama menemukan potensi yang terdapat dalam wewangian. Mereka menciptakan berbagai campuran wewangian, baik untuk digunakan secara pribadi maupun dalam upacara keagamaan.

Banyak hieroglif yang ditemukan pada dinding-dinding kuil Mesir menggambarkan percampuran minyak dan menjabarkan banyak resep minyak. Salah satu contohnya adalah Kuil Edfu, yang terdapat di tepi barat sungai Nil. Kuil ini berada di bawah timbunan pasir selama berabab-abad hingga kondisinya masih hampir utuh seperti semula. Ada dua ruangan aula besar yang terdiri dari pilar-pilar raksasa, yang salah satunya mengarah ke ruangan kecil yang disebut laboratorium, yang menjadi tempat peracikan parfum dan minyak. Di dindingnya terdapat hieroglif yang menjabarkan resep pembuatan parfum-parfum tersebut. Dua diantaranya adalah resep untuk pembuatan kyphi, yaitu dupa yang mengandung kemenyan (frankincense), mur (myrrh), madu, kismis yang semuanya direndam dalam anggur, rempah sweet flag, getah pinus, dan juniper. Resep lainnya adalah untuk pembuatan “Hekenu”, yang mengandung getah kayu, kemenyan (frankincense), kemenyan putih kering, dan bunga akasia, yang digunakan untuk meminyaki “anggota tubuh ilahi” dari dewa-dewa di kuil. Formula obat-obatan dan resep parfum yang serupa digunakan para ahli alkimia dan imam besar untuk membuat campuran wewangian yang digunakan untuk ritual.

Pada masa jauh sebelum masehi, orang-orang Mesir kuno mengumpulkan minyak atsiri dan menyimpannya dalam bejana pualam. Bejana-bejana ini secara khusus diukir dan dibentuk sebagai wadah untuk minyak wewangian yang digunakan di rumah-rumah. Saat makam Raja Tutankhamen dibuka pada tahun 1922, ditemukan kurang lebih 50 bejana pualam yang secara khusus dibuat untuk menyimpan 350 liter minyak. Para perampok makam telah mengambil hampir seluruh minyak yang sangat bernilai tersebut, dan hanya meninggalkan bejana-bejana besar dengan jejak-jejak minyak yang masih terlihat di dalamnya. Para perampok tersebut memilih mengambil minyak daripada emas. Hal ini menunjukkan betapa bernilainya minyak atsiri bagi mereka.

Pada tahun 1817 ditemukan Ebers Papyrus, yaitu gulungan jurnal farmasi sepanjang lebih dari 870 kaki, yang berasal dari 1500 SM. Gulungan tersebut berisi lebih dari 800 resep herbal dan obat-obatan yang berbeda. Gulungan-gulungan lain menjabarkan tingkat keberhasilan yang tinggi dalam menyembuhkan 81 jenis penyakit yang berbeda. Banyak dari obat-obatan tersebut mengandung mur (myrrh) dan madu. Mur (myrrh) dikenal karena fungsinya untuk membantu dalam penyembuhan infeksi kulit dan tenggorokan, dan untuk meregenerasi jaringan kulit. Mur (myrrh) juga digunakan dalam proses pembalseman karena khasiatnya dalam mencegah pertumbuhan bakteri.

Dokter-dokter dari Ionia, Attia, dan Crete, yang merupakan peradaban kuno berdasarkan pulau-pulau di laut Mediterania, datang ke kota-kota di tepi Nil untuk menambah pengetahuan mereka. Pada masa itu, the school of Cos didirikan dan Hippocrates (460 SM – 377 SM), yang oleh orang-orang Yunani disebut sebagai “Bapa kedokteran modern”, belajar di sekolah tersebut.

Orang-orang Roma memurnikan kuil-kuil dan gedung-gedung pemerintahan mereka dengan proses difusi minyak atsiri, dan mereka juga menggunakan wewangian saat mandi uap untuk menyegarkan tubuh dan menghindari penyakit.

Tempat penyulingan balsam kuno di Ein Gedi, Israel, di Gurun Yudea.

 

Tempat penyulingan Terracotta dari masa 350 SM di museum Taxila, Pakistan.

 

Sejarah Awal Ekstraksi Minyak Atsiri

Peradaban kuno menemukan bahwa minyak atau zat yang harum bisa diekstraksi dari tumbuhan dengan berbagai metode. Salah satu metode ekstraksi yang paling kuno dan primitif adalah yang dikenal sebagai enfleurasi. Bagian-bagian mentah dari tumbuhan seperti batang, dedaunan, kulit, atau akar dihancurkan dan dicampur dengan minyak zaitun, lemak hewan, dan beberapa jenis minyak nabati. Kulit aras dipisahkan dari batang dan dahan, dihancurkan hingga menjadi bubuk, direndam dalam minyak zaitun, dan diletakkan di dalam kain wol. Kain tersebut kemudian mengalami proses pemanasan. Panas tersebut menarik minyak atsiri keluar dari partikel kulit kayu untuk masuk ke dalam minyak zaitun, kemudian kain wol diperas untuk menghasilkan ekstrak minyak atsiri. Minyak cendana (sandalwood) juga diekstraksi dengan cara yang sama.

Metode enfleurasi juga digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri dari kelopak bunga. Bahkan sebenarnya, kata enfleurasi berasal dari bahasa Perancis yang secara literal berarti “merendam dengan aroma bunga.” Contohnya, kelopak bunga mawar atau melati dicampurkan dengan lemak angsa atau kambing. Tetesan-tetesan minyak atsiri ditarik dari kelopak ke dalam lemak, kemudian dipisahkan dari lemak. Teknik kuno ini merupakan salah satu metode yang paling primitif untuk ekstraksi minyak atsiri.

Digunakan juga beberapa teknik ekstraksi lain:

  • Merendam bagian-bagian tumbuhan di dalam air mendidih
  • Cold-pressed
  • Merendam di dalam alkohol
  • Distilasi uap. Cara kerjanya adalah uap bergerak ke atas, melingkupi bagian tumbuhan dan menyebabkan selaput tumbuhan yang mengandung minyak terbuka dan menghasilkan minyak. Minyak tersebut kemudian menjadi uap yang bergerak masuk ke kondensor, lalu kembali menjadi bentuk cair, dan kemudian dipisahkan dari air.

Banyak formula kosmetik kuno dibuat dengan bahan dasar lemak angsa dan kambing dan susu unta. Orang-orang Mesir kuno membuat eyeliner, eye shadow, dan kosmetik lainnya dengan cara seperti itu. Mereka juga mewarnai rambut dan kuku mereka dengan berbagai jenis cat dan parfum. “Kerucut” yang terbuat dari lilin dan minyak atsiri digunakan oleh wanita kerajaan, yang menikmati harumnya aroma minyak saat kerucut tersebut meleleh karena hari yang semakin panas.

Di dalam kuil, minyak umumnya dituang ke dalam wadah yang menguapkan minyak hingga aromanya sepanjang hari memenuhi ruangan-ruangan yang digunakan untuk ritual sakral dan upacara keagamaan.

Orang-orang Arab kuno juga mengembangkan proses distilasi. Mereka menyempurnakan ekstraksi minyak mawar dan air mawar, yang populer di Timur Tengah, pada masa kekaisaran Byzantium (330 M – 1400 M)

Minyak Atsiri dalam Sejarah Keagamaan

Alkitab mencatat lebih dari 200 referensi mengenai wewangian, ukupan, dan minyak. Wewangian seperti kemenyan (frankincense), mur (myrrh), rasamala (galbanum), kayu manis (cinnamon), kayu teja (cassia), rosemary, hisop (hyssop), dan narwastu (spikenard) digunakan untuk mengurapi dan menyembuhkan orang sakit. Di dalam kitab Keluaran, Tuhan memberikan instruksi kepada Musa untuk membuat minyak urapan yang kudus dengan bahan-bahan sebagai berikut:

  • Mur (myrrh) – “lima ratus syikal” (kurang lebih 1 galon)
  • Kayu manis (cinnamon) – “dua ratus lima puluh syikal”
  • Tebu (calamus) – “dua ratus lima puluh syikal”   
  • Kayu teja (cassia) – “lima ratus syikal” 
  •  Minyak zaitun (olive oil) – “satu hin” (kurang lebih 1 1/3 galon)

 

Alkitab dan Al Quran juga mencatat satu kejadian di mana persembahan ukupan Harun menghentikan terjadinya tulah. Musa memberi instruksi kepada Harun untuk mengambil perbaraan, menaruh api dan ukupan, dan “pergilah dengan segera kepada umat itu dan adakanlah pendamaian bagi mereka, sebab murka Tuhan telah berkobar, dan tulah sedang mulai.” Alkitab mencatat bahwa Harun berdiri di antara orang-orang mati dan orang-orang hidup, dan berhentilah tulah itu. Penting untuk diperhatikan bahwa menurut aturan yang ditemukan di Alkitab dan menurut aturan bangsa Yahudi, ada tiga jenis kayu manis (cinnamon) yang digunakan dalam pembuatan ukupan. Kayu manis (cinnamon) dikenal sebagai bahan yang sangat efektif dalam melawan mikroba, infeksi, dan bakteri. Bahan pembuatan ukupan yang disebut sebagai “getah damar (stacte)” dipercaya sebagai wewangian yang manis dan serupa dengan mur (myrrh), yang efektif dalam melawan infeksi dan virus.

Orang-orang majus mempersembahkan kemenyan (frankincense) dan mur (myrrh) kepada bayi Yesus. Satu jenis minyak yang lain, yaitu narwastu (spikenard), juga disebutkan digunakan untuk mengurapi Yesus, “Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.” Juga mencatat mengenai pengurapan Yesus: “Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.”

Referensi Sejarah Lainnya

Sepanjang sejarah dunia, minyak dan rempah-rempah wangi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Herodotus, seorang sejarawan Yunani yang hidup pada 484 SM – 425 SM, mencatat bahwa 1000 talenta kemenyan (frankincense) dipersembahkan pada perayaan tahunan untuk dewa Bel di Babilonia.

Sejarawan Romawi, Plinius Tua (23 M – 79 M), menulis bahwa semenanjung India, Cina, dan Arab memperoleh paling sedikit 100 juta sesterces (mata uang Romawi kuno) dari kerajaan Romawi setiap tahunnya, hanya untuk wewangian.

Diodorus Siculus hidup di abad pertama sebelum masehi dan menulis tentang berlimpahnya kemenyan (frankincense) di Arabia hingga dapat mencukupi kebutuhan kemenyan (frankincense) untuk pemujaan dewa-dewa di seluruh dunia.

Napoleon dikabarkan sangat menyukai parfum yang terbuat dari ekstrak bunga pohon jeruk (neroli) dan bahan-bahan lainnya hingga ia memesan 162 botol parfum tersebut.

Setelah menaklukkan Yerusalem, salah satu benda yang dibawa pulang ke Eropa oleh para pejuang Perang Salib adalah ekstrak mawar yang sudah dipadatkan.

Seorang ahli herbal yang hidup di abad ke 12, Hildegard of Bingen, menggunakan rempah-rempah dan minyak untuk menyembuhkan penyakit. Biarawati Benediktin ini mendirikan biaranya sendiri dan menghasilkan banyak tulisan. Bukunya yang berjudul Physica memiliki lebih dari 200 bab yang menjabarkan mengenai tumbuhan dan kegunaannya untuk menyembuhkan penyakit.

 

Penemuan Kembali

Pengenalan kembali minyak atsiri ke dalam dunia pengobatan modern dimulai pada akhir abad 19 dan awal abad 20.

Penggunaan minyak atsiri di rumah sakit militer dan sipil mulai meluas pada Perang Dunia I. Seorang dokter di Perancis, Dr. Monciere, menggunakan minyak atsiri secara ekstensif karena khasiatnya untuk melawan bakteri dan menyembuhkan luka. Ia pun mengembangkan beberapa jenis pengobatan aromatik.

Seorang kimiawan Perancis, RenéMaurice Gattefossé, PhD, diakui secara luas sebagai bapa aromaterapi. Ia bersama sekelompok ilmuwan lain mulai mempelajari mengenai minyak atsiri pada tahun 1907.

Pada bukunya yang berjudul Aromatherapy, yang diterbitkan pada tahun 1937, Dr. Gattefossé menceritakan kisah nyata penggunaan minyak atsiri lavender untuk penyembuhan luka bakar serius. Kisah ini banyak diceritakan di dalam karya tulis mengenai minyak atsiri. Namun ketika Dr. Gattefossé sendiri yang menulis mengenai kecelakaan yang dialaminya, pengaruhnya jauh lebih besar dibanding ketika kisah ini diceritakan oleh orang-orang lain selama bertahun-tahun.

            Dr. Gattefossé terbakar dalam arti yang sesungguhnya – diselimuti api – ketika terjadi ledakan di laboratorium pada Juli 1910. Setelah memadamkan api dengan berguling-guling di atas rumput, ia menulis “kedua tangannya dengan cepat terjangkit infeksi bakteri yang disebut gas gangrene.” Ia melanjutkan bahwa “satu kali bilasan minyak lavender menghentikan proses pembentukan gas pada jaringan tangannya. Penanganan ini kemudian diikuti dengan keluarnya keringat yang berlebihan dan dimulainya proses penyembuhan pada keesokan harinya.”

Robert B. Tisserand, editor dari The International Journal of Aromatherapy, menghabiskan 20 tahun mencari buku yang ditulis oleh Dr. Gattefossé. Satu salinan buku tersebut akhirnya ditemukan dan Tisserand menjadi editor buku yang kemudian diterbitkan kembali pada tahun 1995. Tisserand mencatat bahwa luka bakar yang dialami Dr. Gattefossé “pasti begitu parah hingga menyebabkan gas gangrene, yaitu infeksi yang sangat serius.”

Dr. Gattefossé berbagi hasil penelitiannya dengan rekan kerja dan sahabatnya, Jean Valnet, yaitu seorang dokter yang bekerja di Paris. Setelah kehabisan persediaan antibiotik selama bekerja sebagai dokter di Tonkin, Cina, saat Perang Dunia II, Dr. Valnet mulai menggunakan minyak atsiri pada pasiennya yang mengalami luka akibat perang. Ia tidak menyangka bahwa minyak atsiri sangat berkhasiat dalam melawan infeksi. Ia kemudian berhasil menyelamatkan nyawa banyak prajurit yang mungkin bisa meninggal jika tidak ditangani dengan benar.

Dua orang murid dari Dr. Valnet, yaitu Dr. Paul Belaiche dan Dr. Jean-Claude Lapraz, mengembangkan lebih lanjut pekerjaan Dr. Valnet. Mereka mempelajari khasiat minyak atsiri sebagai antivirus, antibakteri, antijamur, dan antiseptik.

Pada tahun 1990, seorang dokter Perancis bernama Dr. Daniel Pénoël dan seorang ahli biokimia Perancis bernama Pierre Franchomme berkolaborasi untuk menulis buku referensi pertama yang menjabarkan khasiat medis dari lebih dari 270 jenis minyak atsiri, dan cara penggunaannya secara medis. Mereka menulis buku tersebut berdasarkan penelitian Franchomme di laboratorium dan pengalaman Pénoël dalam menggunakan minyak atsiri untuk para pasiennya. Buku yang diberi judul l’aromathérapie exactement tersebut diterbitkan dalam bahasa Perancis dan menjadi sumber utama dari banyak penulis di seluruh dunia untuk menulis mengenai manfaat minyak atsiri secara medis.

Gary Young mulai mendirikan perusahaan minyak atsiri dan mencari para ahli terbaik dalam hal penggunaan medis, distilasi, dan kromatografi. Ia pertama mempelajari mengenai minyak atsiri bersama Dr. Jean-Claude Lapraz pada tahun 1985 di Jenewa, Swiss. Kemudian ia pergi ke Paris untuk belajar bersama salah satu murid Jean Valnet, yaitu Paul Belaiche, MD. Gary juga belajar bersama Daniel Pénoël, salah satu penulis l’aromathérapie exactement. Pada awal tahun 90an, ia belajar bersama Profesor Radwan Farag, PhD, dari Cairo University dan Profesor K. Hüsnü Can Başer dari Andalou University di Eskisehir, Turki.

Pelatihan Gary Young dalam bidang seni distilasi dan pengujian minyak atsiri dimulai dengan kemitraannya untuk mengembangkan lavender bersama dengan Jean-Noël Landel di Provence, Perancis. Jean-Noël memperkenalkan Gary pada Marcel Espieu, presiden Lavender Growers Association di Perancis Utara, dan pada Henri Viaud, seorang ahli kimia dan penyuling minyak atsiri. Mr. Viaud juga adalah penulis buku yang diterbitkan pada tahun 1983 mengenai kelayakan kualitas minyak atsiri. Mr. Viaud memiliki laboratorium dan penyulingan kecilnya sendiri, dan Gary adalah satu-satunya murid yang ia miliki. Ia mengajarkan Gary poin-poin penting dari proses distilasi.

Setelah belajar di Laboratorium Albert Vieille di Grasse, Perancis, Gary pergi ke Lyon, Perancis pada tahun 1994. Di sana ia belajar bersama ahli kromatografi nomor satu dunia, Hervé Casabianca, PhD. Dr Casabianca pergi ke berbagai laboratorium Young Living di Amerika Serikat dan Ekuador untuk memberikan pelatihan pada staf ilmuwan mengenai kromatografi gas/spektometri massa.

Dari D. Gary Young hingga Jean-Claude Lapraz hingga Jean Valnet hingga RenéMaurice Gattefossé – D. Gary Young adalah pelopor di dalam dunia minyak atsiri, sama seperti para ahli lainnya.

Pengetahuan dan penggunaan minyak atsiri telah menyebar ke seluruh penjuru dunia mulai dari tahun 1994 hingga 2016, dan menjadikan Young Living Essential Oils sebagai perusahaan dengan nilai milyaran dolar dan pemimpin dalam bidang minyak atsiri.

Orang-orang di seluruh dunia yang peduli pada kesehatan telah menyadari pentingnya menggunakan rempah-rempah alami yang berkualitas tinggi. Satu hal yang menarik adalah kebanyakan rempah-rempah yang dipakai dalam pengobatan bisa menjadi minyak atsiri melalui proses distilasi. Satu hal yang membedakan adalah tingkat kepekatan kandungan zat. Minyak atsiri bisa 100 hingga 10 000 kali lebih pekat – dan lebih berkhasiat – dari rempah-rempah. Namun walaupun jauh lebih berkhasiat dari rempah-rempah alami, minyak atsiri hampir tidak pernah menimbulkan efek samping negatif seperti obat-obatan kimia, dan sangat cocok untuk orang-orang yang ingin menjaga kesehatan mereka dengan cara alami.

Terkadang dampak penggunaan minyak atsiri begitu luar biasa sehingga pasien menyebutnya sebagai “keajaiban”; dan walaupun belum ada yang bisa sepenuhnya memahami “mengapa” dan “bagaimana” minyak atsiri bisa membawa dampak yang begitu signifikan, kenyataannya adalah memang itu yang terjadi. Jutaan orang bisa disembuhkan dari penyakit, infeksi, rasa sakit, dan bahkan gangguan mental dengan menggunakan minyak atsiri murni. Minyak atsiri memiliki potensi yang begitu besar untuk pengobatan dan baru sedikit yang mulai terkuak.

Potensi minyak atsiri untuk menyembuhkan penyakit mulai banyak terdengar lagi karena penelitian yang dilakukan oleh banyak ilmuwan dan dokter. Sekarang ini jelas terlihat bahwa kita belum menemukan solusi permanen untuk penyakit-penyakit berbahaya seperti virus Zika dan Ebola, virus hanta, AIDS, HIV, dan jenis baru dari TBC dan influenza seperti flu burung dan flu babi.

Minyak atsiri mungkin akan semakin memegang peranan penting dalam melawan mutasi jenis baru dari bakteri, virus, dan jamur. Semakin banyak peneliti melakukan penelitian klinis yang serius mengenai penggunaan minyak atsiri untuk melawan jenis-jenis penyakit ini.

Penelitian yang dilakukan di Weber State University yang bekerja sama dengan D. Gary Young, dan juga penelitian-penelitian lain, mengindikasikan bahwa kebanyakan virus, jamur, dan bakteri tidak bisa bertahan hidup ketika berhadapan dengan hampir semua jenis minyak atsiri, terutama yang tinggi akan kandungan fenol (phenols), karvakrol (carvacrol), timol (thymol), dan terpena (terpenes). Hal ini juga membantu kita memahami mengapa sekelompok perampok, yang dikenal sebagai pedagang rempah dan parfum, terhindar dari Wabah Maut ketika mereka merampok orang-orang yang sudah mati atau sekarat pada abad ke 15.

Banyak bukti dan kesaksian pribadi yang menunjukkan bahwa orang-orang yang menggunakan minyak atsiri hanya memiliki kemungkinan kecil untuk terjangkit penyakit menular. Selain itu, pengguna minyak atsiri yang sudah terjangkit penyakit menular cenderung pulih lebih cepat dibanding mereka yang menggunakan antibiotik.

Dunia modern baru saja mulai melihat kehebatan minyak penyembuh yang berasal dari Tuhan – hal yang sebenarnya diketahui dengan baik oleh dunia di jaman kuno. Pada jaman itu tidak ada laboratorium, pabrik pembuatan, peralatan dengan teknologi tinggi, atau bahan kimia. Pengobatan pada jaman itu adalah dengan menggunakan apa yang terdapat di alam dengan segala karunianya untuk menyembuhkan – satu hal yang harus disadari dan tidak ditinggalkan oleh dunia modern. Pengobatan modern juga tentunya memiliki keajaibannya sendiri. Jutaan nyawa diselamatkan dari krisis dan kegagalan fungsi anggota tubuh. Namun cara untuk hidup dengan kekuatan dan kebugaran tanpa rasa sakit dan penyakit seharusnya didapatkan dari apa yang Tuhan ciptakan, bukan dari apa yang dibuat manusia.

Minyak atsiri bukan lagi mata rantai yang hilang dalam dunia pengobatan modern. Jutaan orang mengakui kehebatannya, dan jutaan orang lainnya setiap tahunnya mulai diperkenalkan pada potensi yang dimiliki minyak atsiri. Dengan semakin banyaknya praktisi kesehatan, dokter, ilmuwan, dan pengguna dari segala usia yang masuk ke dalam dunia pengobatan dari jaman kuno ini, metode pengobatan akan memasuki dimensi yang baru dengan semakin banyak penemuan-penemuan yang menarik. Dan semuanya ini akan membawa manfaat bagi umat manusia, kini dan di masa yang akan datang.