Wikioil

Cara Kerja Minyak Atsiri

Memahami Proses Kimiawi yang Terjadi Pada Minyak Atsiri

Minyak atsiri adalah senyawa aromatik yang mudah menguap, yang dihasilkan oleh alam, yang terkandung di dalam semak belukar, bunga, pohon, akar, dan biji. Minyak atsiri biasanya diekstraksi melalui distilasi uap, distilasi air, cold-pressed.

Kelebihan minyak atsiri terletak pada konstituen-konstituen yang dimilikinya dan sinergi antar konstituen-konstituen tersebut. Minyak atsiri terbentuk dari 200-500 konstituen yang berbeda sehingga bisa menghasilkan efek yang beraneka-ragam. Tidak ada dua jenis minyak atsiri yang serupa satu sama lain.

Sebagai contoh, minyak lavender mengandung kurang lebih 200 konstituen yang berbeda, dan komponen utamanya adalah linalyl acetate, linalool, cis-beta-ocimene, trans-beta-ocimene, dan terpinene-4-ol. Minyak lavender banyak digunakan untuk luka bakar, luka gigitan serangga, sakit kepala, PMS, imsomnia, stress, dan menumbuhkan rambut. Minyak atsiri merupakan gabungan dari ratusan konstituen yang berbeda sehingga tiap minyak bisa menghasilkan berbagai efek yang berbeda bagi tubuh.

Minyak atsiri memiliki kemampuan yang unik untuk menembus masuk membran sel dan mengalir melalui darah dan jaringan. Struktur unik minyak atsiri yang larut dalam lemak sangat serupa dengan susunan membran sel manusia. Selain itu, molekul-molekul minyak atsiri juga berukuran relatif kecil sehingga memudahkannya menembus masuk ke dalam sel. Minyak atsiri bisa mengalir ke seluruh bagian tubuh hanya dalam hitungan menit, hanya dengan dioleskan ke bagian kaki atau jaringan lunak.

Struktur Dasar Konstituen-Konstituen Minyak Atsiri

Konstituen-konstituen aromatik minyak atsiri (contohnya terpena, monoterpena, fenol, aldehida, dll) terbentuk dari rantai panjang karbon dan atom hidrogen, yang secara dominan memiliki bentuk menyerupai cincin. Tautan atom karbon menjadi tulang punggung dari rantai tersebut, dengan oksigen, hidrogen, nitrogen, belerang, dan atom karbon lainnya melekat di berbagai titik pada rantai tersebut.    

Minyak atsiri memiliki proses kimiawi yang berbeda dengan minyak lemak (yang juga dikenal sebagai asam lemak). Berlawanan dengan minyak lemak yang memiliki struktur hidrokarbon sederhana, minyak atsiri memiliki struktur cincin yang jauh lebih kompleks, dan mengandung belerang dan atom nitrogen yang tidak dimiliki minyak lemak.

Senyawa terpenoid yang terkandung di dalam semua jenis minyak atsiri sebenarnya terbentuk dari bahan bangunan yang sama – molekul yang memiliki 5 atom karbon yang dikenal sebagai isoprene. Ketika dua unit isoprene bergabung, terbentuklah monoterpena; ketika tiga unit bergabung, terbentuklah seskuiterpena; dan seterusnya.

Kategori Konstituen Minyak Atsiri

Terdapat 14 kategori konstituen minyak atsiri. Kami akan memberikan daftar mengenai tiap kategori dengan contoh-contoh jenis minyak yang mengandung konstituen tersebut. Informasi berikut diambil dari buku yang sangat direkomendasikan, yang berjudul The Chemistry of Essential Oils karya David Stewart, PhD,1 dan buku l’aromathérapie exactement2 karya Pierre Franchomme dan Daniel Pénoël.

  1. Alkana: Tidak banyak minyak atsiri yang mengandung alkana, dan biasanya hanya kurang dari 1 persen alkana terkandung dalam minyak atsiri. Alkana jenis undekana, dodekana, dan heksadekana bisa ditemukan di dalam minyak jahe (ginger). Alkohol ditemukan di dalam minyak lemon dan minyak jahe (ginger). Minyak mawar (rose) adalah satu-satunya jenis minyak atsiri yang mengandung 11 hingga 19 persen alkana, dan mungkin itu sebabnya minyak istimewa ini memperlihatkan begitu banyak karakteristik yang unik.
  2. Fenol: Senyawa fenol yang umum ditemukan pada minyak atsiri adalah thymol (ditemukan dalam minyak thyme dan mountain savory) dan eugenol (minyak cengkeh (clove), kayu manis (cinnamon), selasih mekah (basil), dan salam (bay laurel)). Fenol ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit (<1 persen) pada minyak kayu teja (cassia), kayu manis (cinnamon), dan ylang ylang. Fenol dipercaya berkhasiat sebagai antiseptik, antimikroba, dan dapat meningkatkan sistem imun tubuh dengan berbagai cara. Beberapa jenis fenol bersifat kuat dan dapat menyebabkan iritasi kulit.
  3. Monoterpena: Konstituen ini adalah yang paling umum ditemukan di semua jenis minyak atsiri. Diperkirakan ada 1000 jenis monoterpena yang berbeda yang ditemukan pada minyak atsiri. Monoterpena mengandung 10 jenis karbon dan memiliki karakteristik yang serupa dengan alkana. Sebagian besar kandungan di dalam berbagai jenis minyak, termasuk minyak limau gedang (grapefruit) dan kemenyan (frankincense), adalah monoterpena. Konstituen ini memiliki aroma yang ringan, juga dapat mendukung dan meningkatkan khasiat dari konstituen-konstituen yang lain. Umumnya, aroma konstituen ini adalah yang pertama terdeteksi ketika kita mencium aroma satu jenis minyak atsiri. Monoterpena jenis α-pinene, d-limonene, l-limonene, sabinene, myrcene, β-phellandrene, camphene, dan ocimene banyak ditemukan dalam pinus (pine), jeruk (orange), balsam cemara (balsam fir), juniper, kemenyan (frankincense), jahe (ginger), cemara (spruce), dan kemangi (basil).
  4. Seskuiterpena: Dalam minyak atsiri dapat ditemukan tidak kurang dari 3000 jenis seskuiterpena yang berbeda. Konstituen kategori ini mengandung 15 jenis karbon dan memiliki karakteristik yang serupa dengan alkana dan monoterpen. Seskuiterpena jenis beta-caryophyllene, bisabolen, dan guaiene dapat ditemukan dalam lada (black pepper), mur (myrrh), dan nilam (patchouli). Contoh jenis minyak yang tinggi kandungan seskuiterpena adalah aras (cedarwood), nilam (patchouli), cendana (sandalwood), jahe (ginger), akar wangi (vetiver), blue cypress, dan mur (myrrh). Kebanyakan jenis seskuiterpena spesifik hanya dimiliki satu jenis minyak atsiri, dan kebanyakan memiliki aroma yang ringan. Namun ada beberapa pengecualian. Caryophyllene, misalnya, memiliki aroma pedas dan aroma kayu yang kuat, dan ditemukan dalam berbagai jenis minyak. Seskuiterpena berkhasiat meringankan inflamasi pada jaringan dan juga berdampak besar pada keseimbangan hormon dan emosi.

Terpena lainnya:

Diterpena (20 karbon) adalah molekul terberat yang dapat ditemukan dalam minyak atsiri. Minyak atsiri melati (jasmine) mengandung kurang lebih 14 persen diterpena. Dilihat dari khasiatnya, diterpena memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan seskuiterpena dan dikenal berfungsi sebagai zat ekspektoran dan pencahar.

Triterpena (30 karbon) dan tetraterpena (40 karbon) adalah molekul berukuran lebih besar dibanding diterpena dan biasanya ditemukan pada minyak dari buah-buahan jenis citrus seperti jeruk, jeruk keprok, lemon, jeruk bali, dan jeruk nipis, yang diperoleh melalui proses cold-pressed.

Diterpena dan triterpena sebelumnya dianggap memiliki molekul yang berukuran terlalu besar untuk dapat melewati proses distilasi. Namun jenis diterpena seperti incensole telah dibuktikan ada di dalam minyak atsiri melalui metode analisis GC-MS (Gas Chromatography Mass Spectometry), atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut  Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa. Dan asam triterpenic (seperti asam boswellic) terdeteksi ada di dalam minyak atsiri kemenyan (frankincense) melalui pengujian High Performance Liquid Chromatography, atau yang dalam bahasa Indonesia disebut pengujian Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).

  1. Alkohol: Nama-nama jenis konstituen ini berakhiran –ol. Borneol ditemukan di dalam lavandin; citronellol dalam mawar (rose); linalool dalam rosewood, α-terpineol dan terpinen-4-ol dalam melaleuca; dan lavandulol dalam lavender. Alkohol juga ditemukan dalam eukaliptus (eucalyptus) dan adas (fennel), dan masih banyak lagi jenis lainnya. Khasiat alkohol adalah menambah energi, sebagai pembersih, antiseptik, antivirus. Alkohol memiliki aroma manis bunga.
  2. Ether: Tidak seperti terpena, alkohol, atau keton, konstituen ether tidak umum ditemukan dalam minyak atsiri. Nama-nama jenis konstituen ini berakhiran “–ole”, “-cin”, atau “-ether.” Contoh dari ether adalah anethole yang ditemukan dalam adas (fennel) dan adas manis (anise); estragole dalam tarragon; elemicin dalam elemi; myristicin dalam pala (nutmeg); dan eugenol methyl ester yang ditemukan dalam beberapa spesies melaleuca. Khasiat ether adalah menenangkan dan menyeimbangkan emosi, membantu melepaskan emosi negatif, dan memiliki efek antidepresan.
  3. Aldehida: Nama-nama jenis konstituen ini berakhiran “–al” atau “–aldehyde.” Benzoic aldehyde ditemukan dalam onycha; cinnamaldehyde dalam kayu teja (cassia); citral dalam serai (lemongrass); cuminal dalam jintan puti (cumin); neral dalam melissa; dan phellandral dalam eukaliptus (eucalyptus). Octanal ditemukan dalam mawar (rose), lavender, dan citrus. Decanal ditemukan dalam ketumbar (coriander), serai (lemongrass), dan mandarin. Aldehida memiliki aroma yang kuat dan memiliki khasiat sebagai antimikroba, anti inflamasi, menyejukkan. Aldehida juga dapat menenangkan sistem saraf, pereda stress, dan menurunkan tekanan darah.
  4. Keton: Keton memiliki bau yang kuat dan menyengat. Nama-nama jenis konstituen ini biasanya berakhiran “–one.” Kamper (camphor) ditemukan dalam rosemary; fenchone dalam adas (fennel); jasmone dalam melati (jasmine); pentanone dalam mur (myrrh); piperitone dalam peppermint; β-thujone dalam Idaho tansy; dan α-vetivone dalam akar wangi (vetiver). Keton dipercaya dapat menenangkan, dengan khasiat dekongestan dan analgesik; mempercepat penyembuhan (regenerasi sel); dan membersihkan pusat reseptor.
  5. Asam karboksilat: Konstituen ini hanyalah bagian kecil dari minyak atsiri, jarang terkandung lebih dari 1-2 persen. Konstituen ini mudah dikenali karena selalu mengandung kata “asam” (“acid”) pada namanya. Contohnya adalah asam sinamat dalam kayu manis (cinnamon); dan asam valerat dalam valerian. Asam karboksilat berkhasiat merangsang sistem saraf, membersihkan, dan sangat reaktif terhadap komponen-komponen yang lain.
  6. Ester: Contoh jenis minyak yang konstituen utamanya adalah ester adalah birch dan gandapura (wintergreen). Nama-nama jenis konstituen ester berakhiran “-ate”. Ester biasanya memiliki aroma manis yang kuat. Linalil asetat ditemukan dalam bergamot; neril asetat dalam helichrysum; isobutyl angelate dalam Roman chamomile; citronellyl formate dalam geranium. Mentil asetat dalam peppermint; dan bornil asetat (bornyl acetate), yang merupakan konstituen utama dalam pinus (pine), cemara (spruce), juniper, dan fir. Ester terbuat dari kombinasi asam karboksilat dan alkohol. Ester berkhasiat menenangkan, menyeimbangkan emosi, antijamur, dan meredakan stress dan ketegangan emosi.
  7. Oksida: oksida adalah hidrokarbon yang teroksidasi dan biasanya terbentuk dari terpena, alkohol, atau keton yang telah teroksidasi. Contohnya adalah bisabolol oksida yang ditemukan di dalam German chamomile; piperitonen oksida dalam peppermint; linalool oksida dalam hisop (hyssop); oksida mawar dalam mawar (rose); sclareol oksida dalam langon kleri (clary sage); dan humulene oksida dalam cengkeh (clove). Oksida ini biasanya terkandung dalam jumlah yang sangat kecil. Namun kebanyakan minyak menghasilkan oksida 1,8-sineol, yang juga dikenal sebagai eukaliptol, dalam jumlah yang bervariasi. Eukaliptol lebih banyak ditemukan dalam eukaliptus (E. globulus), rosemary, dan thyme. Minyak dengan kandungan 1,8-sineol dikenal berkhasiat melegakan sinus dan sebagai dekongestan nasal.
  8. Lakton: Konstituen ini dikenal karena nama-namanya yang sulit untuk diucapkan. Bergaptene ditemukan dalam minyak adas (fennel); furanogermacrene dalam mur (myrrh); dan umbelliferone dalam anise. Biji seledri (celery seed) adalah jenis minyak dengan kandungan lakton yang lebih tinggi. Sama seperti keton, lakton berkhasiat sebagai dekongestan dan ekspektoran. Lakton umumnya memiliki aroma yang lembut. Dan menurut Dr. Daniel Pénoël, lakton memiliki khasiat sebagai antiseptik, antiparasit, dan anti inflamasi.
  9. Kumarin: Stewart mencatat bahwa kumarin adalah turunan dari lakton dan banyak ditemukan di alam. Menyadari adanya kemiripan nama dengan obat pengencer darah Coumadin, ia menjelaskan bahwa kumarin dan Coumadin adalah dua hal yang berbeda. Konstituen yang satu adalah konstituen alami, sedangkan yang lainnya adalah bahan sintetis, dan keduanya memiliki formula kimiawi yang berbeda. Kumarin memiliki aroma rumput atau jerami yang baru dipotong. Bahkan sebenarnya, ada konstituen kumarin yang terlepas ke udara ketika seseorang memotong rumput di halamannya. Konstituen ini ditemukan dalam minyak atsiri fleabane, bitter orange, lavandin (dalam jumlah yang sangat kecil), dan kayu teja (cassia). Kumarin, walaupun dalam jumlah yang sedikit, bisa memiliki khasiat yang besar. Kumarin memiliki khasiat sebagai antispasmodik, antivirus, antibakteri, dan antijamur.
  10. Furan (furanoids): furanoid atau furan adalah lakton atau kumarin dengan nama-nama yang berawalan “furano-” atau “furo-” atau berakhiran “furan”. Kebanyakan minyak atsiri yang mengandung furan adalah jenis-jenis minyak citrus. Beberapa jenis minyak atsiri dengan kandungan furan bersifat photosensitive (memperkuat efek sinar matahari), contohnya angelica, bergamot, bitter orange, limau gedang (grapefruit), lemon, jeruk nipis (lime), petitgrain, dan ruta (R. graveolens). Beberapa jenis minyak lain yang mengandung furan, misalnya mur (myrrh), mandarin, sweet orange, dan tangerine tidak bersifat photosensitive. Satu hal yang menarik dari mur (myrrh) adalah bahwa mur mengandung lebih banyak konstituen furan dibanding jenis minyak atsiri yang lain (hingga 27 persen), tetapi mur (myrrh) tidak bersifat photosensitive. Furan bisa memiliki khasiat yang sama dengan lakton atau kumarin.

 

Melihat penjelasan singkat mengenai konstituen-konstituen ini, komponen lavender bisa dikategorikan sebagai ester (linalil asetat), alkohol (linalool dan terpinene-4-ol), dan monoterpena (cis β-ocimene dan trans-β-ocimene).

Konstituen-konstituen minyak atsiri Boswellia sacra menunjukkan bahwa jenis ini terbentuk dari monoterpena (α-pinene, limonene, sabinene, myrcene, α-thujene, p-cy-mene), seskuiterpena β-caryophyllene, dan banyak komponen lain.

Konstituen-konstituen yang terkandung dalam lemon bisa dikategorikan sebagai monoterpena (limonene, gamma-terpinene, β-pinene, α-pinene, dan sabinene).

Konstituen-konstituen peppermint bisa dikategorikan sebagai alkohol (menthol), keton (menthone), furan (menthofuran), monoterpena (1,8-sineol dan pulegone), dan ester (mentil asetat).

Konstituen-konstituen yang dijabarkan di atas hanyalah sedikit dari jumlah konstituen yang terkandung di dalam setiap jenis minyak atsiri.

 

Chemotype Tumbuhan dan Variabilitas Konstituen

Satu spesies tumbuhan bisa memiliki beberapa chemotype (berbagai varian dengan biomolekul yang unik, yang terdapat dalam satu spesies) yang berbeda. Hal ini berarti tumbuhan basil (Ocimum basilicum) yang ditanam di satu area mungkin menghasilkan minyak atsiri dengan proses kimiawi yang berbeda dari tumbuhan basil yang ditanam di lokasi lain. Faktor dalam lingkungan tempat tumbuhnya tanaman, seperti pH tanah dan kandungan mineral, dapat secara dramatis mempengaruhi proses kimiawi yang terjadi pada tumbuhan tersebut. Berikut adalah beberapa chemotype yang berbeda dari tumbuhan basil:

  • Ocimum basilicum CT linalool fenchol (Jerman) – antiseptik
  • Ocimum basilicum CT methyl chavicol (Reunion, Komoro, atau Mesir) – anti inflamasi
  • Ocimum basilicum CT eugenol (Madagaskar) – anti inflamasi, pereda nyeri

 

Spesies tumbuhan lainnya dengan berbagai chemotype yang berbeda adalah rosemary (Rosmarinus officinalis).

  • Rosmarinus officinalis CT camphor tinggi kandungan kamper, yang berkhasiat sebagai stimulan dan bekerja secara sinergis dengan jenis minyak yang lain, misalnya lada hitam (Piper ningrum), dan dapat menjadi penambah tenaga yang luar biasa.
  • Rosmarinus officinalis CT cineole tinggi kandungan 1,8-sineol, yang digunakan di banyak negara untuk penyumbatan paru dan untuk membantu membersihkan racun dari hati dan ginjal. Young Living menyediakan chemotype rosemary jenis ini karena khasiatnya yang luar biasa.
  • Rosmarinus officinalis CT verbenone tinggi kandungan verbenone dan merupakan chemotype rosemary yang paling lembut. Jenis ini sangat berkhasiat untuk proses regenerasi dan perawatan kulit.

 

Tumbuhan thyme (Thymus vulgaris) umumnya menghasilkan beberapa chemotype yang berbeda, tergantung pada kondisi penanamannya, iklim, dan ketinggian. Berikut adalah dua dari banyak chemotype yang ada:

  • Thymus vulgaris CT thymol berfungsi membunuh kuman dan sebagai anti inflamasi.
  • Ocimum basilicum CT linalool berfungsi sebagai anti infeksi.

 

Satu chemotype dari tumbuhan thyme akan menghasilkan satu jenis minyak atsiri dengan kandungan thymol yang tinggi, tergantung dari waktu dilakukannya proses distilasi. Semakin proses distilasi dilakukan menjelang akhir musim tanam (misalnya pertengahan musim panas atau musim gugur), semakin banyak kandungan thymol yang terdapat dalam minyak tersebut.

Contoh lain dari variabilitas chemotype ini ditunjukkan oleh penelitian di Turki yang dilakukan terhadap Origanum onites.3 Para peneliti menemukan bahwa ketinggian tempat ditanamnya tumbuhan mempengaruhi morfologi tumbuhan dan jumlah minyak yang dihasilkannya. Semakin tinggi tumbuhan ditanam, semakin banyak minyak yang dihasilkan tumbuhan tersebut. Bahkan walaupun berada pada sisi pegunungan yang sama, tumbuh-tumbuhan liar menghasilkan minyak dalam jumlah yang berbeda-beda.

Penanaman dengan cara yang tepat menjamin bahwa akan ada lebih banyak chemotype, seperti Thymus vulgaris dan Origanum compactum, yang secara lebih konsisten mempertahankan kualitas dan jumlah unsur dan minyak yang diproduksi.

 

Khasiat dan Kemurnian Minyak Atsiri

Salah satu faktor yang menentukan kemurnian dari satu jenis minyak atsiri adalah konstituen yang terkandung di dalamnya. Konstituen-konstituen ini bisa dipengaruhi oleh begitu banyak faktor, termasuk bagian tumbuhan yang menghasilkan minyak tersebut, kondisi tanah, pupuk (organik atau kimia), kondisi geografis, iklim, ketinggian, metode panen, dan proses distilasi.

Kunci untuk menghasilkan minyak atsiri dengan khasiat menyembuhkan adalah dengan mempertahankan sebanyak mungkin komponen aromatik yang berharga, yang terdapat dalam minyak atsiri. Komponen aromatik dalam minyak atsiri bersifat rapuh dan mudah hancur akibat suhu atau tekanan tinggi, juga akibat kontak dengan logam yang reaktif seperti tembaga atau aluminium. Inilah sebabnya proses distilasi minyak atsiri dilakukan dalam media baja anti karat, dengan suhu dan tekanan rendah.

Bagian tumbuhan yang digunakan pun harus bebas dari herbisida dan bahan kimia lainnya. Bahan-bahan kimia ini bisa bereaksi dengan minyak atsiri selama proses distilasi, dan bisa menghasilkan zat beracun. Selain itu, banyak jenis pestisida memiliki sifat larut dalam minyak sehingga ada kemungkinan tercampur dalam minyak atsiri.

Banyak ahli kimia telah berhasil menciptakan konstituen dasar dan aroma dari beberapa jenis minyak atsiri melalui eksperimen di laboratorium. Namun, minyak sintetis ini memiliki khasiat menyembuhkan yang rendah dan bahkan bisa membawa resiko jika digunakan. Minyak atsiri murni mengandung ratusan biokonstituen yang berbeda, yang ketika digabungkan dapat menghasilkan minyak atsiri dengan khasiat tertentu. Selain itu, banyak jenis minyak atsiri mengandung molekul dan isomer yang mustahil dihasilkan di laboratorium.

Sekarang ini, ada kurang lebih 300 jenis minyak atsiri yang didistilasi atau diekstraksi di seluruh dunia. Di dalam 300 jenis minyak atsiri ini telah teridentifikasi dan terdaftar ribuan konstituen dan molekul aromatik. 98 persen dari jumlah produksi minyak atsiri sekarang ini digunakan oleh industri kosmetik dan parfum. Hanya 2 persen dari jumlah produksi yang digunakan untuk keperluan medis dan penyembuhan (Therapeutic)

Essential Oil berkualitas tinggi mengharuskan semua penyuling memberikan sampel untuk dianalisa, untuk memastikan bahwa semua konstituen terkandung dalam jumlah yang tepat agar bisa menghasilkan khasiat yang maksimal. Minyak yang murni tidak akan memiliki konstituen yang membuat minyak tersebut berkhasiat jika proses distilasi tumbuhan dilakukan pada waktu yang tidak tepat atau dengan prosedur distilasi yang tidak tepat.

Selain itu, perkebunan dan tempat penyulingan minyak atsiri diharuskan untuk mengikuti proses inspeksi.

Para pakar essential oil berinteraksi dengan pengguna akhir minyak atsiri sehingga bisa memonitor respon pengguna dan memastikan khasiat sesungguhnya dari berbagai jenis minyak, juga membandingkan konstituen-konstituen dari berbagai jenis minyak yang berbeda untuk menentukan potensi dan khasiat yang maksimal. Kualitas dan khasiat adalah target yang terus berkembang dan berubah.

 

Standar dan Pengujian

Standar Young Living

Selama bertahun-tahun, salah satu perusahaan Essential Oil ternama, Young Living. telah membeli dan mengumpulkan perbendaharaan indeks retensi dan referensi spektrum massa yang mengandung lebih dari 400,000 komponen. Dengan menggunakan referensi hasil penelitian ini, Young Living mengembangkan standar sendiri untuk menjamin kualitas dan khasiat yang tertinggi dari minyak atsiri.

Laboratorium untuk penelitian dan pengujian kualitas milik Young Living yang berada di Utah memiliki 4 instrumen kromatografi gas (GC), dua diantaranya juga memiliki spektroskopi massa (GC-MS). Laboratorium Young Living di Ekuador memiliki satu GC-MS. Instrumen-instrumen ini adalah satu-satunya di dunia untuk melakukan analisa khasiat minyak atsiri yang dicocokkan dan dikalibrasikan dengan instrumen yang digunakan di National Center for Scientific Research di Perancis (CNRS: Centre National de la Recherche Scientifique) oleh Dr. Hervé Casabianca.

Aturan dasarnya adalah jika satu atau lebih komponen utama dalam satu jenis minyak atsiri tidak memiliki persentase sesuai yang ditentukan, minyak tersebut tidak memenuhi standar minyak atsiri Young Living yang murni dan berkhasiat.

Minyak atsiri lavender yang dihasilkan di satu area di Perancis mungkin memiliki proses kimiawi yang sedikit berbeda dengan yang dihasilkan di area yang lain, dan sebagai hasilnya mungkin gagal memenuhi standar yang ditentukan. Minyak tersebut mungkin kelebihan kandungan kamper (1.0 bukan 0.5). Kondisi ini mungkin disebabkan karena lavender yang digunakan dalam proses distilasi masih terlalu muda, atau kandungan lavandulol dalam minyak mungkin terlalu rendah akibat kondisi cuaca tertentu pada musim panen.

Dengan membandingkan profil proses kimiawi kromatografi gas dari minyak atsiri lavender dengan standar minyak Young Living yang murni dan berkhasiat, kita juga bisa membedakan lavender murni dari berbagai spesies lavandin (lavender hibrida). Biasanya lavandin memiliki kandungan kamper yang tinggi, hampir tidak memiliki kandungan lavandulol, dan mudah teridentifikasi. Namun, wilayah Tasmania menghasilkan lavandin yang memproduksi minyak atsiri dengan kandungan kamper yang rendah dan menyerupai lavender murni. Lavender hibrida ini hanya bisa teridentifikasi dengan menganalisa komposisi minyak atsiri dari lavandin Tasmania ini dengan menggunakan kromatografi gas resolusi tinggi, dan membandingkannya dengan standar minyak Young Living yang murni dan berkhasiat untuk lavender murni.

Instrumen Pengujian

Di Amerika Serikat, hanya sedikit perusahaan yang menggunakan instrumen dan metode analisa yang tepat untuk menganalisa minyak atsiri dengan layak. Kebanyakan laboratorium menggunakan peralatan yang paling cocok untuk bahan kimiawi sintetis – bukan untuk analisa minyak atsiri alami.

Young Living Essential Oil menggunakan instrumen yang tepat dan telah berusaha untuk mengkalibrasi instrumen GC-MS Young Living dengan perangkat yang digunakan Dr. Casabianca, direktur Penelitian Produk Alami di laboratorium CNRS di Perancis. Hal ini untuk memastikan teridentifikasinya lebih banyak komponen yang mungkin bisa terlewatkan. Selain mengoperasikan instrumen analisanya dengan kalibrasi yang sama dengan laboratorium CNRS, Young Living tidak berhenti mengembangkan perbendaharaan komponen analitikal agar bisa melakukan analisa komposisi yang lebih menyeluruh.

Kromatografi Gas dan Spektometri Massa

Melakukan analisa minyak atsiri secara tepat dengan kromatografi gas (GC) adalah sebuah pekerjaan yang kompleks. Campuran injeksi, diameter kolom kapiler, panjang kolom, dan temperatur oven harus tepat mengikuti parameter tertentu. GC adalah instrumen analitikal yang digunakan untuk memisahkan banyak komponen alami yang dihasilkan tumbuhan aromatik yang memproduksi minyak atsiri. Komponen utama dari GC adalah injektor, kolom GC kapiler, detektor, dan oven. Sedikit sampel dari minyak atsiri dimasukkan ke dalam kolom GC kapiler dengan menggunakan jarum suntik. Kolom GC kapiler perlahan-lahan dipanaskan di dalam oven untuk memisahkan komponen-komponen minyak atsiri. Pada akhirnya, komponen-komponen yang telah dipisahkan mengalir keluar dari kolom GC, dan persentase dari tiap komponen ditentukan oleh Detektor Ionisasi Nyala (Flame Ionization Detector (FID)).

Penggunaan kolom GC kapiler yang lebih panjang meningkatkan terjadinya pemisahan dari tiap-tiap komponen dalam satu jenis minyak atsiri yang kompleks. Kolom GC kapiler dengan panjang 50 atau 60 meter adalah yang paling efektif untuk pemisahan komponen minyak atsiri. Kolom dengan panjang 20 atau 30 meter cukup untuk pemisahan banyak komponen, namun terlalu pendek untuk dengan tepat menganalisa mosaik kompleks dari biokonstituen alami yang ditemukan di dalam minyak atsiri. Analisa yang lebih detail dari satu jenis minyak atsiri bisa didapatkan menggunakan kolom GC kapiler dengan panjang 100 meter.

Setiap kolom GC kapiler memiliki lapisan polimer internal (fasa diam) yang membantu pemisahan komponen minyak atsiri. Fasa diam yang paling umum dalam pemisahan minyak atsiri adalah fasa polydimethylsiloxane yang menghasilkan pemisahan berdasarkan titik didih dari tiap komponen minyak atsiri. Selain itu, operator GC bisa melakukan pemisahan berdasarkan titik didih dan polaritas masing-masing komponen minyak atsiri melalui fasa diam menggunakan lilin yang terbentuk dari polyethylene oxide. Kedua fasa ini digunakan secara bersamaan dalam satu GC untuk menghasilkan dua pemisahan dari satu kali injeksi minyak atsiri. Melalui proses ini bisa dihasilkan identifikasi yang lebih pasti dari komponen minyak atsiri.

Instrumen analitikal lainnya yang umum digunakan untuk pemisahan dan identifikasi komponen minyak atsiri adalah GC-MS (Kromatografi Gas-Spektometri Massa). MS adalah detektor khusus yang melekat pada instrumen, yang dapat mengidentifikasi nama tiap komponen minyak atsiri berdasarkan perbendaharaan komponen minyak atsiri yang telah diketahui. MS mengidentifikasi komponen berdasarkan susunan karbon, hidrogen, dan atom oksigen. GC-MS digunakan pada tahap-tahap awal penelitian dengan tujuan untuk memisahkan dan mengidentifikasi masing-masing komponen dari minyak atsiri yang baru. Setelah penelitian tahap awal, GC (dengan Detektor Ionisasi Nyala (FID)) digunakan untuk pengecekan kualitas rutin untuk menentukan persentase tiap komponen dalam minyak atsiri.

 

GC-MS Kiral

Walaupun GC-MS adalah alat yang sempurna untuk menganalisa minyak atsiri, namun alat ini tetap memiliki batasan. Terkadang sulit untuk membedakan biokonstituen alami dan sintetis hanya dengan menggunakan analisa GC-MS. Jika linalil asetat sintetis ditambahkan pada lavender murni, analisa GC-MS hanya dapat mengidentifikasi konstituen tersebut adalah linalil asetat tanpa bisa secara pasti memastikan apakah konstituen tersebut alami atau sintetis. Menambahkan kolom GC kapiler kiral dapat membantu membedakan komponen alami dari sintetis.

Ilmuwan peneliti dapat menggunakan GC-MS kiral untuk mengidentifikasi apakah satu jenis minyak atsiri terbentuk dari proporsi alami komponen kiral nya. Beberapa komponen memiliki apa yang disebut polaritas kiral. Hal ini berarti komponen tersebut memiliki versi “kiri” atau “kanan”, yang disebut enantiomer.

Untuk melihat contoh yang sempurna dari “kiralitas”, angkatlah kedua tangan dengan kedua telapak tangan terbuka mengarah ke wajah. Keduanya adalah bayangan cermin satu sama lain namun berlawanan satu sama lain sehingga sarung tangan kanan tidak bisa dipakai di tangan kiri. Istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi putaran ke kanan adalah dextrorotary, atau “d”, dan putaran ke kiri adalah levorotary, atau “l”. Kebanyakan, namun tidak semua, molekul minyak atsiri memiliki kiralitas.

Seorang ilmuwan yang terlatih dapat memeriksa apakah minyak atsiri tercemar komponen sintetis dengan melihat rasio antara 2 enantiomer kiral. Alam cenderung memilih yang satu dibanding yang lainnya. Sebagai contohnya adalah penelitian tahun 20124 mengenai perbedaan kiral dalam konstituen kemenyan (frankincense) α-pinene yang menunjukkan Boswellia sacra +8.24 sementara Boswellia carterii -0.68. Dua enantiomer dengan jumlah yang sama akan didapatkan ketika komponen sintetis asing ditambahkan. Memurnikan campuran sintetis hingga mendapatkan enantiomer tunggal adalah hal yang mungkin dilakukan. Namun tidak banyak yang melakukannya karena besarnya biaya yang dibutuhkan.

IRMS (Isotope Ratio, and Mass Spectrometry), yaitu spektometri massa isotop, adalah metode yang bahkan lebih canggih lagi. Hal ini diperlukan karena terkadang manusia bisa sangat cerdas dan “mencemari” minyak hingga kealamiannya tidak bisa lagi ditentukan hanya dengan kiralitas. IRMS mengukur rasio isotopik dari atom-atom individual di dalam minyak. Dengan membandingkan rasio atom-atom tersebut dengan standar alami maupun standar sintetis, minyak yang tercemar bisa teridentifikasi.

Peneliti Young Living menggunakan polarimeter untuk mengidentifikasi putaran optik dari molekul. Sampel yang ada akan dianalisa lebih lanjut dengan pengujian IRMS jika wujud “d” atau “l” menyimpang dari apa yang tercatat pada perbendaharaan kiral mengenai enantiomer kanan dan kiri. Minyak yang tercemar atau yang berbahan dasar sintetis tidak akan diterima.

Karena sifatnya yang kompleks inilah maka minyak harus dianalisa oleh ahli kimia analitik yang secara khusus dilatih dalam bidang interpretasi kromatografi gas dan spektroskopi massa. Ahli kimia menguji keseluruhan komposisi minyak atsiri untuk memastikan kemurniannya, dan memeriksa hubungan antara berbagai komponen di dalam minyak. Jika beberapa komponen ditemukan dalam kuantitas yang lebih tinggi dari yang lainnya, hal ini akan menjadi petunjuk penting untuk menentukan apakah minyak tersebut murni atau tercemar.

Kemurnian minyak menjadi perhatian utama Young Living hingga tiap minyak atsiri yang ditawarkan akan diuji dahulu menggunakan GC-MS, dan kemudian pada tahap selanjutnya diuji menggunakan GC-FID oleh para ilmuwan Young Living yang telah terlatih untuk penelitian dan pengujian kualitas. Minyak yang tidak memenuhi standar yang telah ditentukan akan ditolak dan dikembalikan kepada pengirimnya.

Pencemaran minyak atsiri akan menjadi hal yang semakin umum terjadi karena pasokan minyak atsiri kualitas tinggi semakin berkurang sementara permintaan semakin meningkat. Pencemaran dapat dilakukan dengan melarutkan minyak atsiri dalam minyak lemak lipid. Hal ini umum dilakukan oleh beberapa perusahaan minyak atsiri untuk meningkatkan pasokan dan mengurangi biaya. Metode lain adalah mencampur dengan komponen sintetis atau meggunakan minyak atsiri yang lebih murah untuk meningkatkan volume dan memaksimalkan keuntungan. Pencemaran minyak atsiri ini akan membawa dampak negatif untuk integritas penggunaan aromaterapi dan minyak atsiri.

 

Minyak yang Tercemar dan Bahaya yang Ditimbulkan

Sekarang ini banyak minyak lavender yang dijual di Amerika berasal dari tumbuhan yang disebut lavandin, yang ditanam dan didistilasi di berbagai belahan dunia. Lavandin sering dipanaskan untuk menguapkan kamper, dicampurkan dengan linalil asetat sintetis untuk meningkatkan aromanya, kemudian dijual sebagai minyak lavender. Kebanyakan konsumen tidak mengetahui perbedaannya dan senang bisa membelinya di berbagai toko atau melalui internet dengan harga $7 atau $10 untuk setengah ons. Inilah alasannya penting bagi kita untuk memastikan integritas dari perusahaan atau penjual minyak atsiri.

Pencemaran atau kesalahan dalam penamaan minyak atsiri bisa membahayakan konsumen. Seorang wanita yang telah mendengar khasiat minyak lavender untuk menyembuhkan luka bakar menggunakan “minyak lavender” yang dibeli dari toko makanan dan kesehatan lokal pada lengannya yang tersiram air panas. Namun rasa sakit yang dialaminya semakin hebat dan luka bakarnya semakin parah hingga kemudian ia mengatakan bahwa minyak lavender tidak ada gunanya sama sekali untuk menyembuhkan luka bakar. Ketika minyak “lavender” miliknya dianalisa, ditemukan bahwa minyak miliknya terbuat dari lavandin. Lavandin adalah tanaman hibrida dari lavender, yang secara biologis berbeda dari Lavandula angustifolia murni. Lavandin memiliki kandungan kamper yang lebih tinggi (7-18 persen), yang bisa membakar kulit. Lavender murni, sebaliknya, hampir tidak memiliki kandungan kamper sama sekali dan memiliki komponen yang dapat menyembuhkan luka bakar, yang tidak ditemukan dalam lavandin.

Jean Valnet, MD, menulis satu contoh yang serupa di dalam bukunya yang berjudul The Practice of Aromatherapy:

Seorang pria sedang menjalani pengobatan untuk penyakit fistula ani (munculnya saluran kecil antara ujung usus dan kulit di sekitar anus) yang dideritanya dengan memberikan tetesan minyak lavender murni dan alami. Pasien tersebut sudah mulai pulih ketika ia kemudian mengadakan perjalanan dan menyadari bahwa minyaknya tertinggal di rumah. Ia kemudian membeli minyak yang baru di sebuah toko obat. Sayangnya, minyak yang ia beli bukanlah minyak alami atau murni: hanya satu kali pemakaian berakibat pada inflamasi yang begitu menyakitkan dan parah hingga pria yang kurang beruntung ini bahkan tidak bisa duduk selama lebih dari dua minggu.5

Di Perancis, produksi minyak lavender (Lavandula angustifolia) murni menurun drastis dari 87 ton pada tahun 1967 menjadi hanya 12 ton pada tahun 1998. Selama periode ini, permintaan minyak lavender di seluruh dunia meningkat lebih dari 100 persen. Jadi bagaimana para pemasar minyak atsiri bisa mendapatkan cukup lavender untuk memenuhi permintaan? Mereka kemungkinan menggunakan kombinasi minyak sintetis dan campuran. Ada banyak perusahaan kimia di pesisir timur Amerika Serikat yang khusus menciptakan bahan kimiawi sintetis yang bisa meniru tiap jenis minyak atsiri yang umum digunakan. Perbandingannya adalah untuk tiap kilogram minyak atsiri murni yang diproduksi, diperkirakan ada 10 hingga 100 kilogram minyak sintetis yang diproduksi.

Minyak yang tercemar karena tercampur dengan bahan sintetis bisa sangat berbahaya, menyebabkan ruam, luka bakar, dan iritasi kulit. Zat yang umum ditambahkan seperti propylene glycol, DEP, atau DOP (pelarut yang tidak memiliki bau dan bisa meningkatkan volume) bisa menyebabkan alergi, dan sama sekali tidak memiliki khasiat menyembuhkan.

Sebagian orang beranggapan bahwa minyak atsiri yang “100 persen murni” tidak akan menyebabkan luka bakar pada kulit mereka. Ini tidak benar. Beberapa jenis minyak atsiri murni bisa menyebabkan iritasi kulit jika digunakan tanpa dilarutkan terlebih dahulu. Untuk beberapa orang, minyak oregano bisa menyebabkan kemerahan pada kulit ketika langsung dioleskan pada kulit. Minyak citrus dan rempah seperti jeruk (orange) dan kayu manis (cinnamon) juga dapat menyebabkan ruam. Bahkan kandungan terpena pada minyak pinus dapat menyebabkan iritasi kulit pada orang-orang dengan kulit sensitif.

Banyak turis yang datang ke Mesir ingin membeli minyak atsiri lokal, terutama minyak bunga teratai (lotus). Para penjual meyakinkan mereka bahwa minyak yang dijual 100 persen murni dengan menyentuhkan korek api yang menyala pada leher wadah minyak untuk menunjukkan bahwa minyak tersebut tidak dilarutkan dengan alkohol atau pelarut petrokimia lainnya. Namun, pengujian seperti ini sama sekali bukanlah indikator kemurnian yang bisa dipercaya. Banyak bahan sintetis yang tidak mudah terbakar bisa ditambahkan pada minyak atsiri, termasuk propylene glycol. Selain itu, beberapa jenis minyak atsiri alami yang tinggi kandungan terpena dapat mudah terbakar.

Beberapa peneliti beranggapan bahwa karena kompleksitasnya, minyak atsiri tidak akan mengganggu keseimbangan alamiah tubuh atau homeostasis: jika satu konstituen menyebabkan efek yang terlalu kuat, konstituen yang lain akan melawan atau menetralkannya. Akan tetapi, bahan kimia sintetis, seperti yang digunakan dalam farmasi, biasanya hanya melakukan satu aksi dan mungkin mengganggu homeostasis tubuh dan menyebabkan berbagai efek samping yang merugikan.

 

Aroma yang Berkhasiat

Aroma dari minyak atsiri dapat secara langsung mempengaruhi banyak hal, mulai dari keadaan emosional hingga masa hidup seseorang. Para ilmuwan masih meneliti cara kerja spesifik dari indera penciuman. Namun cara kerjanya digambarkan seperti gembok dengan kunci, yaitu satu molekul aroma akan memiliki kecocokan dengan reseptor yang spesifik.

Ketika kita menghirup satu aroma, molekul aroma yang ada di udara mengalir melalui lubang hidung hingga mencapai epitelium olfaktori atau pusat dari sensasi penciuman. Ketika mencapai epitelium olfaktori, molekul aroma tersebut merangsang sel-sel reseptor olfaktori, yang kemudian mengirimkan impuls pada bulbus olfaktorius. Tiap jenis reseptor olfaktori mengirimkan impuls pada glomerulus yang spesifik pada bulbus olfaktorius. Ada sekitar 2000 glomerulus di dalam bulbus olfaktorius yang menerima impuls dari reseptor olfaktori sehingga kita bisa mengenali berbagai macam bau. Bulbus olfaktori kemudian mengirimkan impuls ke bagian-bagian lain dari otak, termasuk pusat pengecapan (tempat sensasi rasa dihasilkan), amigdala (tempat pengolahan ingatan yang berkaitan dengan emosi), dan bagian-bagian lain dari sistem limbik.

 

Minyak atsiri bisa membawa dampak fisiologi dan psikologi yang besar karena sistem limbik secara langsung terhubung dengan bagian-bagian otak yang mengatur detak jantung, tekanan darah, pernapasan, ingatan, tingkat stress, dan keseimbangan hormonal.

Sebuah artikel dalam Scientific American yang terbit pada 15 Desember 2006 mengangkat satu pertanyaan yang menarik mengenai teori gembok dan kunci: “teori bentuk tidak bisa menjelaskan mengapa beberapa molekul yang memiliki bentuk yang hampir identik memiliki bau yang sangat berbeda, misalnya etanol yang beraroma seperti vodka namun ethane tiol berbau seperti telur busuk.”6

Teori lain mengenai penciuman, yaitu teori getaran, dicetuskan oleh seorang ilmuwan Italia bernama Luca Turin pada sebuah karya tulis yang diterbitkan pada tahun 1996. Menurut ilmuwan ini, yang memampukan manusia untuk membedakan berbagai aroma bukanlah teori “gembok dan kunci” melainkan getaran dari molekul-molekul. Ia mengatakan bahwa reseptor-reseptor olfaktori mengenali getaran kuantum dari tiap atom bau sehingga manusia bisa mengenali berbagai aroma dengan jumlah yang hampir tidak terbatas karena reseptor-reseptor olfaktori mencocokkan dengan berbagai frekuensi getaran yang berbeda.

Walaupun teori getaran ini masih menjadi kontroversi, seorang peneliti di University College London bernama Jennifer Brookes menjadi penulis utama dari sebuah penelitian yang menjabarkan mengenai berbagai model dari selektivitas reseptor, termasuk yang berdasarkan bentuk atau faktor lain seperti frekuensi getaran.7 Mengenai teori Turin, ia berbicara kepada BBC pada Maret 2011, “Teori ini sangat menarik; sekarang ini mulai bermunculan berbagai jenis teori biofisika yang mengimplementasikan proses kuantum. Saya yakin inilah saatnya untuk berbagai teori tersebut bisa dikembangkan, dan kemudian kita akan mengujinya.” Seorang rekan kerja Brookes bernama A. P. Horsfield yang berasal dari Imperial College London juga diwawancarai oleh BBC mengenai teori getaran. Ia mengatakan, “Masih banyak yang harus diteliti dan dipahami. Namun kita pun sudah tidak bisa mengatakan bahwa teori ini tidak mungkin benar. Untuk saat ini, teori ini setidaknya harus dianggap layak diperhitungkan.”8

Pada bulan Februari 2015, seorang penulis bernama Christina Agapakis menjabarkan pemikiran dari pendukung awal teori getaran, yaitu seorang ahli kimia bernama Malcom Dyson yang mencetuskan teori ini pada tahun 1928.

Dyson berpendapat bahwa adanya kemungkinan getaran molekular mendasari cara kerja indera penciuman menunjukkan kesesuaian yang menarik dengan cara kerja indera manusia lainnya. Sel fotoreseptor (rods dan cones) dalam retina merespon getaran gelombang cahaya; sel rambut di dalam telinga menjadi aktif ketika merespon frekuensi getaran gelombang suara di udara. Apakah indera penciuman juga bekerja berdasarkan getaran?9

Apapun cara kerjanya, indera penciuman adalah satu-satunya dari panca indera manusia yang secara langsung terhubung dengan bagian otak lobus limbik yang menjadi pusat kontrol emosi. Rasa cemas, depresi, rasa takut, rasa marah, dan rasa bahagia semuanya berasal dari bagian otak ini. Aroma khusus tertentu bisa membangkitkan memori dan emosi, bahkan sebelum kita menyadarinya. Ketika berhubungan dengan penciuman, kita bereaksi dulu sebelum berpikir. Indera yang lain (peraba, pengecap, pendengaran, dan penglihatan) bekerja melalui talamus, yang bekerja sebagai papan penghubung pada otak, yang mengirimkan rangsangan ke korteks serebral (pusat dari pikiran sadar) dan bagian-bagian otak lainnya.

Lobus limbik (himpunan struktur otak, termasuk hipokampus dan amigdala, yang terletak di bawah korteks serebral) juga bisa secara langsung mengaktifkan hipotalamus, yang merupakan salah satu bagian paling penting dari otak. Bagian ini mengatur suhu tubuh, rasa lapar, rasa haus, rasa lelah, siklus tidur dan jam biologis manusia. Bagian ini juga menjadi pusat kontrol hormon dan menghasilkan hormon yang dapat berdampak pada berbagai fungsi tubuh. Produksi hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, hormon tiroid, dan neurotransmiter seperti serotonin semuanya diatur oleh hipotalamus.

Minyak atsiri – melalui aroma dan struktur molekularnya yang unik – dapat secara langsung menstimulasi lobus limbik dan hipotalamus, yang bersifat responsif terhadap rangsangan olfaktori. Inhalasi minyak atsiri bukan hanya dapat menghilangkan stress dan trauma emosional, namun juga dapat menstimulasi produksi hormon dari hipotalamus. Hasilnya adalah peningkatan produksi hormon tiroid (hormon energi) dan hormon pertumbuhan (hormon untuk umur panjang dan mencegah penuaan).

Minyak atsiri juga dapat digunakan untuk mengurangi nafsu makan dan meningkatkan rasa kenyang karena kemampuannya untuk menstimulasi hipotalamus, yang mengatur rasa kenyang yang dirasakan setelah makan. Dalam sebuah penelitian besar, Alan Hirsch, MD, menggunakan wewangian, termasuk peppermint, untuk memicu penurunan berat badan pada sekelompok besar pasien (lebih dari 3000 orang) yang sebelumnya tidak pernah berhasil mengikuti berbagai program untuk mengatur berat badan. Tingkat berkurangnya berat badan pada pasien secara langsung berhubungan dengan frekuensi penggunaan wewangian yang mereka hirup. Satu kelompok pasien dalam penelitian tersebut kehilangan rata-rata 4,7 pon per bulan selama kurun waktu enam bulan. Hirsch menyimpulkan bahwa dengan menghirup aroma tertentu, orang-orang dengan penciuman yang baik dapat mempertahankan penurunan berat badan secara konsisten selama kurun waktu 6 bulan.

Melalui penelitian dengan metode double-blind dan randomisasi lainnya, Hirsch mencatat khasiat aroma untuk meningkatkan libido dan gairah seksual. 31 sukarelawan pria mencoba aroma dari 30 jenis minyak atsiri yang berbeda, dan masing-masing menunjukkan peningkatan gairah seksual berdasarkan pengukuran dengan brachial penile index dan pengukuran tekanan darah pada penis dan brakialis. Dari berbagai aroma, yang menyebabkan peningkatan paling tinggi aliran darah pada penis adalah kombinasi dari aroma lavender dan labu (pumpkin). Penelitian ini menunjukkan bahwa wewangian dapat meningkatkan gairah seksual dengan cara menstimulasi sistem limbik, yang merupakan pusat emosi dari otak.

Orang-orang yang pernah menjalani operasi hidung atau menderita gangguan penciuman mungkin mengalami kesulitan atau sama sekali tidak bisa mengenali aroma. Orang-orang seperti ini tidak bisa secara maksimal merasakan dampak secara emosi dan fisiologi dari minyak atsiri dan aromanya.

Stimulasi yang tepat pada saraf penciuman mungkin dapat menjadi metode baru dari terapi yang berkhasiat dan dapat digunakan sebagai penolong untuk melawan berbagai jenis penyakit. Minyak atsiri, yang digunakan dengan cara inhalasi, mungkin dapat memegang posisi kunci dalam dunia pengobatan yang selama ini belum banyak disentuh.

Minyak atsiri tidak bisa hanya dianggap sebagai parfum. Sekarang kita telah memahami kompleksitas dan nilai dari tiap jenis minyak atsiri dengan ratusan komponen berbeda yang terkandung di dalamnya.